4 Rumah Adat Sulawesi Tenggara yang Tidak Lapuk Termakan Zaman

Rumah Adat Sulawesi Tenggara

Rivorma – Rumah Adat Sulawesi Tenggara merupakan salah satu kekayaan budaya milik nusantara tercinta. Pada saat ini, tidaklah sulit untuk mencari informasi berkaitan nama rumah adat, pakaian adat serta sesuatu yang bersifat budaya lainya. Karena sudah banyak dibahas pada berbagai media online seperti youtube, blogger, facebook, twiter dll.

Sebenarnya potensi wisata budaya Indonesia sangatlah menjajikan untuk diperkenalkan baik untuk wisatawan lokal maupun mancanegara. Mengingat keunikan budaya pada setiap daerah yang beraneka ragam. Sehingga hal inilah yang seharusnya menjadi daya tarik bagi para wisatawan.

Rumah Adat Sulawesi Tenggara
esdenart.blogspot.com

Rumah adat Sulawesi Tenggara merupakan simbol eksistensi dan kejayaan bagi pribumi Sulawesi Tenggara dimasa lampau. Nah, pada kesempatan kali ini, rivorma akan membahas secara detail dan lengkap berkaitan Rumah Adat Sulawesi Tenggara.

BACA JUGA | Ragam Rumah Adat Lampung, Simbol Eksistensi Pribumi Sang Bumi Ruwa Jurai

Rumah Adat Sulawesi Tenggara dan Penjelasannya

Sulawesi Tenggara merupakan salah satu provinsi yang ada di Pulau Sulawesi. Ibukotanya berada di Kendari. Batas batas wilayahnya meliputi, timur berbatasan dengan Laut Banda, selatan berbatasan dengan Laut Flores, barat berbatasan dengan Selat Tiwono serta utara yang berbatasan dengan Provinsi Sulteng.

Ketika mempelajari lebih mendalam tentang peninggalan kebudayaan di provinsi ini khusunya rumah adatnya, akan banyak didapati keistimewaan dan keunikan tersendiri. Mulai dari filosofi, sejarah, bentuk, desain serta nilai sosial budayanya.

Lalu bagaimanakah Rumah Adat Sulawesi Tenggara itu? Maka inilah pentingnya kita mengetahui kebudayaan di daerah ini. Pada artikel sebelumnya, telah dibahas beberapa rumah adat di Indonesia seperti Rumah Adat Lampung, Rumah Adat Jawa Timur dll. Ok, langsung saja simak pembahasan lengkapnya dibawah ini.

Nama – Nama Rumah Adat Sulawesi Tenggara

1. Rumah Adat Laikas (Malige)

Rumah Adat Sulawesi Tenggara
idntimes.com

Rumah adat Laikas (Malige) merupakan rumah tradisional suku Tolaki. Suku tersebut banyak bertempat tinggal di daerah kota Kendari, Kabupaten Konawe, Konawe Utara, Konawe Selatan, Kolaka serta Kolaka Utara di Provinsi Sulawesi Utara.

Berbeda dengan Rumah Joglo Rumah adat Laikas berbentuk panggung sebagai ciri khasnya. Pada umumnya, rumah adat Laikas tersusun atas 3 – 4 lantai. Seperti halnya rumah adat Lampung, bagian kolong rumah adat ini dimanfaatkan sebagai tempat menyimpan binatang ternak, seperti sapi, ayam dll.

Pada Lantai pertama dan kedua difungsikan sebagai tempat tinggal yang terdiri dari beberapa ruangan kamar. Lantai ketiga difungsikan sebagai tempat meletakkan benda koleksi maupun pusaka, lantai keempat dimanfaatkan sebagai tempat berzdikir dan beribadah. Adapun ruangan kiri dan kanan pada lantai kedua dipergunakan sebagai tempat menenun kain.

Namun hal yang menjadi ciri khas tersendiri bagi rumah adat ini yaitu material bangunannya yang hampir 100% materialnya memanfatkan hasil dari alam seperti kayu untuk rangka atau strukturnya dan alang-alang sebagai atapnya. Rumah Adat Sulawesi Tenggara.

Sebagai tiang digunakan balok kayu berukuran besar, adapun material dinding terbuat dari papan yang telah dihaluskan dan untuk menyatukan setiap bagian rangka rumah dipasangkan pasak kayu.

2. Rumah Adat Mekongga

Rumah Adat Sulawesi Tenggara
Mapcarta.com

Rumah Adat Mekongga merupakan rumah adat milik suku Raha (mekongga). Desain dan struktur bangunan rumah adat ini tergolong besar dan luas. Rumah Adat Sulawesi Tenggara.

Seperti halnya Rumah Adat Laikas, Rumah Adat Mekongga juga hampir seluruh materialnya terbuat dari bahan kayu. Rumah ini berbentuk segi empat yang ditopang oleh beberapa tiang penyangga setinggi 20 kaki dari atas permukaan tanah.

BACA JUGA | Rumah Adat Sulawesi Barat

Salah satu keunikan bangunan rumah adat ini adalah letaknya yang berada pada lahan terbuka di tengah hutan, serta dikelilingi rumput alang-alang. Bangunan yang mempunyai tinggi antara 60-70 kaki ini, dahulu dipergunakan oleh raja Mekongga sebagai tempat menggelar acara-acara yang bersifat adat.

Bentuk panggung merupakan ciri utama bangunan Rumah Adat Mekongga yang tersusun atas 12 tiang penyangga untuk melambangkan 12 pemimpin paling berpengaruh, 30 buah anak tangga yang bermaksud jumlah bulu pada sayap burung kongga serta 4 ruangan kamar.

3. Rumah Adat Banua Tada

Rumah Adat Sulawesi Tenggara
ejudy.duckdns.org

Rumah Adat Banua Tada merupakan rumah adat berbentuk panggung dengan bahan material utamanya berupa kayu tanpa memakai paku sebagai penyambung antara satu bagian dengan yang lainya. Secara bahasa, rumah banua tada tersusun atas dua suku kata yaitu Banua (rumah) dan Tada (siku). Sehingga Banua Tada dapat diartikan rumah siku.

Jika diperhatikan lebih mendalam, rumah adat ini mempunyai beragam keunikan mulai dari struktur, desain, fungsi serta nilai filosofis yang terkandung didalamnya. Lalu seperti apakah keunikannya? Berikut pemaparannya. Rumah Adat Sulawesi Tenggara.

Rumah Adat Banua Tada merupakan salah satu peninggalan kesultanan Buton yang masih bisa dijumpai hingga kini. Salah satu ciri khas rumah ada ini adalah terdapat ornamen hiasan maupun simbol-simbol yang banyak  terpengaruh oleh ajaran Tasawuf. Mengingat mayoritas rakyat Buton yang beraga islam. Namun inilah yang menjadi bukti eksistensi dan peradaban kerajaan Buton pada zaman dahulu.

Secara umum, rumah adat Banua Tada mempunyai 3 jenis diantaranya, Banua tada tare pata pale merupakan rumah siku yang memiliki empat tiang sebagai tenpat tinggal pejabat dan pegawai istana. Kamali atau malige merupakan tempat tinggal raja dan para keluarganya. Banua tada tare talu pale, merupakan rumah bagi masyarakat biasa yang memiliki tiga buah siku.

4. Rumah Adat Buton

Rumah Adat Sulawesi Tenggara
Marketplus.com

Rumah Adat Sulawesi Tenggara, pada dasarnya selalu menggunakan struktur panggung sebagai ciri bangunannya. Begitu pula dengan Rumah Adat Buton, bangunan yang tersusun atas empat lantai ini, pada lantai dasarnya berukuran lebih besar dari lantai 2, kemudian lantai 2 lebih besar dari lantai 3, namun yang unik lantai 4 berukuran lebih lebar dari lantai 3.

Rumah Adat Buton merupakan bangunan yang dijadikan sebagai hunian dan pusat pemerintahan oleh raja dan ratu Kesultanan Buton. Bangunan ini tersusun atas 40 tiang, yaitu 5 tiang pada bagian depan yang berjejer ke belakang hingga 8 baris.

Seperti halnya Rumah Adat Sulawesi Tenggara yang lain, Rumah Adat Buton juga menjadikan kayu sebagai material utama bangunan tanpa menggunakan paku sebagai penyambungnya. Pada bagian pondasi digunakan batu alam atau sering disebut sandi sebagai tempat tumpuan tiang penyangga.

Nah, demikian keunikan yang dapat kita dapatkan dari Rumah Adat Sulawesi tenggara. Semoga menginspirasi dan bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *